Sekilas tak ada yang istimewa
dalam foto ini, hanya gambar seorang lelaki ganteng (kata istriku dengan
terpaksa), memkai kopiah putih memegang nota belanja. Namun jika membaca
tulisan ini, kamu akan menemukan semangat jihad (baca; juang atau sungguh-sungguh,
bukan iihadnya ala ISIS) di balik terciptanya foto ini. Diantara foto-foto selfie
saya, foto inilah yang diambil dengan tujuan agung (haddew …)
Halaman rumah masih tampak samar
karena lampu sudah dimatikan sedang matahari belum memberi penuh cahayanya.
Saya buka laptop yang semalaman tergeletak di meja. Saya akan bersama laptop seharian pikirku.
Hari ini (3 April 2015) libur nasional sehingga saya punya waktu banyak untuk
menyelesaikan pembuatan laporan yang selalu tertunda.
Menunggu windows loading, saya
ambil smartphone di samping laptop yang iri jika dicuekin. Sinyal threegee
penuh merayuku untuk berpetualang di dunia maya. Eman-eman bila tidak
dimanfaatkan, sinyal threegee tidak selalu bagus di area rumahku. Sekali
penuh langsung saya sambar tanpa nunggu waktu lagi.
Serti biasa, halaman fesbuk
menjadi pilihan pertama yang saya kunjungi saat saya berselancar di internet.
Sejak kemunculannya fesbuk membuat ketagihan para pengunjungnya, tak
terkecuali saya yang sejak tujuh tahun lalu menjadi tamu setianya. Ngga’ afdal rasanya bila membuka web tanpa tahu
kabar teman-teman melalui status yang mereka kirimkan.
Beberapa saat saya menyisir
status-status yang muncul di layar. Berbagai emosi terekam di sana; lagi
kasmaran, galau, kegirangan, jenaka, dan macam-macam lagi. Gulunganku berhenti pada postingan ukhti
#Rena puspa yang mengupload tulisan blognya
“Happy mom: Selfie Story – Foto Bareng Teh Ninih.” Nama Teh Ninih dalam
judul ini memaksaku untuk menelusuri blog ini.
Kisah foto selfie di blog Rena ini ditulis untuk mengikuti
lomba “Selfie Story bersama smartfren” yang diadakan oleh www.emakgaoel.com. Sayapun terseret ke
halaman yang telah berumur enam tahun ini.
Selama ini saya belum pernah ikutan
lomba menulis ataupun lomba blog. Iginnya sih, bertubi-tubi untuk mengikuti
lomba menulis, tapi karena masih belum bisa menulis dengan baik keinginan itu
hanya sebatas impian belum menjadi kenyataan. Blog yang dibuat juga kosog
melompong hanya berisi beberapa tulisan. Bahkan sampai satu tahun blog saya
tidak pernah mengupload tulisan atau gambar. Nah ketika Emak Gaul ngadain lomba
menulis dengan tema ringan seperti ini saya termotivasi untuk ambil bagian.
Karena sudah ada minat ikutan
lomba, saya terusin baca halaman yang baru pindah ke dot com ini. Apalagi
setelah tahu hadiahnya adalah Windows Phone Ascend W1 jadilah semangatnya
bertubi-tubi. Saya membayangkan Ascend itu ada ditangan saya diberikan gratis
oleh smartfren. Gratisnya itu lah yang bikin eh …
Pokoknya, harus ikut!
“Hhha …!” tak sadar aku bergumam
dibarengi alis yang merengut setelah membaca “Lomba berlangsung tanggal 4 Maret
– 4 April 2015.” dalam ketentuan-ketentuan lomba. Tulisan ini membuatku
terperangah. Sekarang tanggal 3 April
berarti besok lomba ini sudah berakhir batinku.
Tersisa satu hari untuk mencari
foto, menulis kisah dibalik foto, mengirimkan, dan melakukan semua persyaratan
dalam lomba ini. Apakah ini bisa? “You are what you think, you can if you think you can” kalimat ini
meyakinkanku untuk ikut lomba ini walaupun saya tak tahu siapa yang mengucapkan
kalimat ini untuk pertama kalinya.
Tekadku sudah bulat. Saya ambil
pensil dan kertas yang ada tak jauh dari tempat saya duduk untuk menuliskan
semua persyaratan yang harus dilakukan dalam lomba ini. Ternyata kertas yang
saya ambil adalah nota belanja istri saya kemarin. Saya tuliskan semua
persyaratan itu di balik secarik nota dengan pensil yang kugenggam.
Saatnya memilih foto selfie yang
tersimpan dalam folder komputer ataupun dalam kartu memory. Inginnya memilih foto yang pernah diupload ke facebook melalui modem smartfren beberapa waktu lalu, tapi tak ada foto yang
menyimpan cerita dengan kesan mendalam. Semua foto itu biasa saja tak da
kenangan yang berbicara. Kemudian saya berfikir untuk mengambil foto sekarang
juga. Tentu foto ini akan menjadi beda karena diambil dengan memiliki tujuan
yaitu mengikuti lomba.
Segera saya menuju kamar mandi
untuk membasuh muka karena akan segera di rekam kamera dan akan disebarkan di
jagat maya. Ku siramkan air di wajah dan saat akan kusudahi raupan wajahku,
saya teringat lebih baik jika saya sempurnakan dengan mengambil wudlu saja.
Dengan berwudlu saya mendapat pahala dan setiap tetes air wudlu akan menjadi
malaikat yang memohon ampunan bagi saya.
Al-hamdulillah karena ingin
mengikuti lomba “selfie story” ini, saya berwudlu di pagi hari. Sisa air wudlu
itu masih terus menetes saat saya keluar dari kamar mandi. Saya raih handuk
yang menggantung untuk mengelap tetesan itu, kembali ku ingat cerita ustadz
bahwa Nabi saw, tak mengelap wajahnya setelah ambil air wudlu. Maka kubiarkan
wajahku berhias butiran air dalam foto selfie ini.
Nota dalam genggaman menjadi
saksi iktiarku untuk mengikuti lomba ini. Setelah ikhtiar sempurna kupasrahkan
semua pada yang kuasa mengambil keputusan.
Ingin ikutan ayo segera meluncur ke ;
hmm gitu kisah di balik ikutan lomba ini
BalasHapussalam kenal akhi
@guru5seni8
penulis di www.kartunet.or.id dan http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com